Sekitar pukul 4 sore dihari minggu tanggal tujuh bulan ke-6 di tahun 2010, pesawat yang saya tumpangi landing dengan selamat di kota yang akan menjadi persinggahanku berikutnya. Perasaan yang sangat luar biasa kurasakan menikmati panjangnya perjalanan hari ini, setumpuk rencana sudah ada didalam otakku mengiringi setiap detik perjalanan ku dari medan hingga sampai di kota tujuan ku. Banyak hal baru yang kulalui yang mungkin terkesan ndeso bagi siapapun yang akan mendengarnya, tapi ku berusaha serileks mungkin ketika untuk pertama kalinya dalam hidupku melangkahkan kakiku ke terminal keberangkatan Bandara Internasional Polonia Medan. Terkesan kampungan memang, tapi itulah salah satu bagian besar yang tidak mungkin akan segera bisa aku rasakan bila kesempatan besar dari perusahaan besar tersebut tidak kuterima. Mencoba untuk menjadi biasa memang terasa sulit bagi siapapun termasuk saya yang hadir dalam sebuah dunia biasa namun tetap nuansa luar biasa ada didalamnya bagi orang sepertiku. Bertahun-tahun hidup bebas di provinsi sendiri Sumatera Utara, sedari lahir kedunia dan menikmati masa-masa sekolah yang sedikit membosankan hingga kuliah dan merasakan dunia kerja yang singkat di kota Medan sudah cukup sebenarnya membuatku ingin bisa mendapatkan tantangan baru di luar daerah tempat tinggalku dibesarkan. Masa itupun tiba, jalan mendapatkan kesempatan menguji nyali pun datang dengan sebuah masa baru di sebuah kota baru yang belum ada gambaran apa-apa dibenak ku. Tapi usaha untuk mendekatkan diri dengan daerah itu sudah kucoba dari awal dengan mencari informasi terkait kota tersebut baik dari keluarga di sana ataupun informasi dari internet.
Here we go,……….
Seorang Bapak, karyawan kantor dimana tempatku akan bekerja, sudah cukup lama berdiri dengan sebuah kertas bertuliskan namaku ditangannya. Beliau yang ditugaskan untuk menjemputku hari itu, dan secara tidak langsung menjadi orang pertama yang beruntung yang aku kenal di kota ini, namanya Pak M. Sargani, sudah cukup lama bekerja di perusahaan ini, sudah ada hampir 7 tahun beliau mengabdikan diri, orangnya baik dan sangat welcome terhadap ku yang banyak melontarkan pertanyaan bernada rasa penasaran dan keingintahuan, tak nampak suasana hari minggu sore itu, mungkin karena masyarakat Kristen di kota ini tidak terlalu banyak sehingga suasana keberadaan gereja tidak terlalu terasa. Kota nya tidak begitu ramai, itulah kesan pertama yang kurasakan. Angkutan umum ada juga yang melintasi jalan umum di depan Mess kantor tempat tinggal ku sementara. Suasana mess cukup ramai dengan tamu-tamu yang belum saya ketahui dengan jelas asalnya dari mana, namun pada akhirnya saya mendapatkan informasi tentang siapa mereka dan dari mana asalnya. Kebanyakan mereka adalah supir manager-manager yang sedang melakukan perjalanan dinas ke kota ini. Kota ini tidak terlalu besar apabila dibandingkan dengan kota tempat dimana aku tinggal sebelumnya, tapi tidak terlalu kecil juga, kesanku pertama melihat kota ini punya masa depan yang gemilang kedepan, dan masih banyak sekali kesempatan bagi kota ini untuk mensejajarkan posisi dengan provinsi-provinsi lain di Sumatera. Sangat terasa nyaman dan sejuk kala itu, tidak ada lagi hawa panas seperti yang selama ini saya rasakan tiap hari di kota Medan. Kota yang menjadi persinggahan ku untuk memulai karir baru tersebut adalah Jambi, cukup familiar karena tidak begitu sulit untuk menghafalkan provinsi dan ibukotanya waktu duduk di jaman sekolah dasar dulu. Dikota ini lah pengalamanku akan bertambah baik dari cita rasa makanan, pola bicara dan tingkah laku penduduk. Tidak begitu sulit mengerti masyarakat di kota ini, karena kemajemukan daerah ini yang sudah banyak ditempati oleh masyarakat-masyarakat pendatang. Tak banyak berita criminal atau khabar buruk terdengar dari daerah ini karena memang masyarakat disini cukup layak dikatakan baik dan ramah. Tak begitu sulit bagi ku untuk bisa membiasakan diri hidup jauh dari orang tua didaerah ini, karena memang kita diberi kesempatan untuk bisa hidup mandiri dan membangun komunitas atau pergaulan yang sehat.
“Apa dio makanan ini,…
Masalah selalu saja ada dalam memulai petualangan, dan disini makanan cukup kontras perbedaannya dengan daerah-daerah di sumatera utara, too salty, sepertinya orang Jambi sangat menyukai makanan yang asin, dilidahku sangat tidak cocok sebenarnya, tapi apa boleh buat pilihan tidak terlalu banyak selain harus menikmati dan mencoba mengalah dengan keadaan. “Kalau orang lain saja bisa, kenapa aku tidak!” , begitu pikiranku diawal-awal. Walau sampai sekarang aku tidak terlalu berhasil untuk bisa menikmati secara total semua jenis makanan di kota ini tetap saja perasaan puas dan merasa bisa bertahan selama sembilan bulan, cukuplah untuk sebuah pencapaian,. Sedikit aneh memang ketika banyak orang sangat mengagungkan makanan dan masakan khas jambi seperti mpek-mpek, tempoyak dan yang lainnya, semua jenis ini tidak terlalu bisa menyatu dengan lidahku. Hanya satu yang bisa tetap aku rindukan dari semua jenis makanan di daerah ini, dan itu adalah “Mie Celor” , cukup simple bentuknya, tapi rasanya sedikit bisa disamakan dengan pocal gomak (Spagethi batak) orang batak, walau memang bagiku tetap juara pocal gomak tersebut. Masalah harga makanan, disini cukup kompak “harganya mahal”, itu yang menjadi dilema pertama, karena akan sulit bagi seorang pria yang tidak terlalu biasa dengan dapur bisa menghemat untuk urusan makanan. Oleh karena itu, tidak heran budget bulanan untuk makan saja cukup meledak bagi anak kost seperti aku. Lucu memang, kota kecil tapi tidak disertai dengan cost yang kecil. Bila kita analysis kota ini memang terlalu focus dengan perkebunan dan pertambangan, menyebabkan lahan untuk pertanian tidak terlalu besar. Jadi sebagian besar kebutuhan pangan jambi dipasok dari luar. Pilihan pun tidak begitu banyak disini, “yah kalau mau hemat masak dewek la”, begitu orang Jambi sering mengucapkannya dengan logatnya yang sedikit lucu tapi enak didengar.
Banyak kebiasaan yang harus dibawa santai di daerah ini, termasuk kebiasaan di rumah makan, terlalu repot bagi saya ketika pramusaji di semua rumah makan harus menyajikan semua menu di meja makan, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi disini, diantaranya kemungkinan pelanggan yang lain untuk menyicipi atau sekedar menyentuh pasti ada yang mengarah pada tidak terjaminnya kebersihan makanan itu lagi. Jadi jalan keluar paling jitu bagi saya setelah beberapa hari membiasakan diri dengan kebiasaan itu namun tidak berhasil adalah kembali ke habitat awal, setiap ingin makan langsung pesan apa yang ingin saya makan.
Medan memang jagonya lah klo soal makanan,.
Banyak pilihan, aneka rasa yang tetap mengarah pada kenikmatan dan dengan kualitas makanan dan tempat yang tidak perlu diragukan. Bisa dibayangkan bagaimana serunya nongkrong di sepanjang jalan Dr. Mansyur USU yang dipadati penjaja makanan yang ringan, murah tapi nikmat. Masuk ke daerah kampus USU pun, pilihan itu semakin bervariasi, tidak akan pernah bosan dengan semua tawaran para penjaja makanan disana. Sementara kalau di daerah baruku ini, selain daerah kampus yang jauh di pinggiran kota suasana kampusnya juga tidak begitu ramai. Di lokasi lain juga tidak terlalu banyak menawarkan sesuatu yang istimewa termasuk Ancol nya jambi yang sudah bisa menjadi trademark nya jambi. Sungai batanghari yang disulap menjadi sebuah area nongkrong yang sepanjang sore sampai malam dipadati pengunjung untuks sekedar menikmati matahari terbenam atau gemercik air sungai batanghari dibawah cahaya rembulan. Tawaran jagung baker atau aneka minuman juga bisa menjadi pilihan untuk melengkapi suasana hati. Daerahnya cukup strategis di pusat pasar. Pertama kali mendengar Ancol, rasa penasaranku tidak begitu tinggi, lebih mengarah kepada lucu-lucuan teman-teman baru ku saja dikantor. Namun, tak pas rasanya jika orang jambi tidak mengetahui daerah ini. Jadi untuk lebih mematenkan status, sesekali nongkrong disana dengan teman-teman menjadi pilihan tepat untuk menghabiskan waktu. Pemandangan tidak terlalu bagus apalagi sesaat sebelum turun hujan, sungainya keruh dan berlumpur serta dipenuhi banyak sampah. Belum terlalu maksimal lokasi ini dimanfaatkan, padahal jiwa anak muda untuk menghabiskan waktu dan memiliki sarana permainan di kota ini cukup tinggi, tidak kalah la sama anak muda di medan. Singgah di sebuah kota yang menjadi daerah baru otomatis mengharuskan aku untuk mencari sebuah komnuitas masyarakat batak termasuk makananya, alhasil mencari rumah makan khusus orang Batak menjadi schedule penting yang perlu dimasukkan dalam list adaptasi. Beruntung saya mempunyai sedikit link yang bisa membantu saya mendapatkan informasi-informasi menarik yang benar-benar membantu termasuk diperkenalkan dengan orang batak yang sudah lebih dulu datang ke kota ini. Namanya andi, dialah yang mengenalkan rumah makan makanan khas batak di daerah ini, walau rasanya tidak sesempurna masakan Tesalonika atau Haleluya tetap saja rasa puas dan bangga selalu datang dikala melahap makanan tersebut. Merasa di kampung sendiri dan tidak lagi merasa sendiri Karena telah menemukan orang-orang yang minimal serumpun dengan saya.
Perjalanan pun dimulai, dunia kerja pun kumasuki dengan banyak hal perasaan bercampur jadi satu, kegundahan bahkan rasa tidak percaya diri sejalan mulai muncul menghalangi keinginanku untuk bergerak maju. Terasa sulit memang pada awalnya. Bahkan ketidaknyamanan dengan perilaku dan ketikmampuanpun mulai datang menghancurkan keinginanku untuk tinggal lama di kota ini. Kendala yang sangat fatal sebenarnya adalah ketika saya sudah tidak lagi merasa mampu dengan semua hal yang berbau perbauran dengan rekan-rekan. Usaha untuk mencari alasan yang paling tepat untuk mengindari pergolakan batin menjadi cara paling jitu namun membuatku semakin terpuruk dalam kebingungan dan ketidakperdulian. Saya ingin sekali bisa menjadi bagian dari mereka yang selalu bisa tertawa bersama membicarkan kenaikan harga cabe dan lain sebagainya. Berjalan bersama menikmati keindahan dan kelebihan yang ada di kota ini. Sebenarnya intinya ada di titik itu. Ketika siapapun sudah bisa menjadi bagian dari orang lain disaat itu juga dia akan menemukan kenyamanan yang akan mempengaruhi akan seperti apa dia kedepan. Lucu memang ketika itu, ada dorongan yang kuat dari dalam diriku yang mengharapkan saya bisa lebih besar dari apa yang saya jalani sekarang, namun kekeliruan akan penantian hari esok menjadi duri dalam dagingku yang makin hari membuatku terkurung dalam penantian panjang. Seharusnya, ungkapan mencoba dari pada tidak sama sekali seharusnya bisa menjadi jalan keluar untuk case ini. Akan tetapi tetap saja sulit dan membiarkannya menjadi sebuah cerita khusus atau mungkin bagian dari scenario perjuangan hidupku yang makin rentan dengan kerapuhan. Menjalani semuanya dengan sendiri sudah tidak asing kulakukan sepanjang hidupku, bukan karena keegoisan diriku yang tidak mau tahu dengan apa yang ada disekitarku, bahkan jikalau saja ada orang baik yang bisa menyelamatkan diriku dari kekurangan ini akan sangat muda bagiku untuk berlari menerima uluran tangannya. Namun disatu sisi keinginan besar ku untuk bangkit tidak disertai dengan action yang benar-benar real dari dalam diriku. Disinilah letak permasalahannya, semua analisa ku benar-benar terpatahkan dan tidak diterima kebenarannya. Aku pun gagal dalam hal penting ini.
Bekerja menjadi seorang pemeriksa adalah sebagian besar dari cita-citaku, namun ketidakjelasan akan apa yang akan saya kerjakan menjadi sebuah tamparan keras ketika memulai memasuki dunia yang seharusnya kumasuki di group ini. Awalnya seperti ada sesuatu yang hilang yang tadinya perlu untuk kupertahankan dalam rangka mengembangkan kemampuanku dibidang yang saya perjuangkan selama ini. Dilua dugaan memang bidang kerja yang saya gambarkan perlahan-lahan mulai surut dari benakku karena semua rutinitas yang rasanya berbeda dengan apa yang kuharapkan. Masuk dunia perkebunan dari sebuah perusahaan besar tidak serta merta membuatku nyaman dan tenang ketika semakin mengetehui apa dan bagaimana saya harus bekerja. Digabungkan dalam sebuah team kecil yang beranggotakan 3 personel ditambah 1 personel yang datang 1 bulan setelah saya. Disinilah harga diri dipertaruhkan, kepolosan dan keluguan menjadi awal dari perkenalan yang tidak begitu membuatku merasa bersalah hingga kini, karena saya tau itu semua tidak salah dan merupakan hak ku untuk menceritakan pada dunia siapa dan bagaimana saya termasuk masalah penghasilan. Sekalipun aku tidka perduli, orang-orang disekitarku tetap merasa diduakan karena masalah itu. Issue gaji memang selalu sensitive, namun bukan berarti itu menjadi satu kesempatan untuk mematahkan semangat junior yang membutuhkan panduan dan bimbingan. Panjang sudah perjalanan didunia kerja bersama dengan team yang selalu banyak menghasilkan cerita panjang dan seru, kantor terasa milik sendiri dengan semua aksi nan gila serta norak kadangkala. Tapi begitulah kami mengekspresikan gaya kebebasan tanpa ada monitor dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas kami. Disinilah harga diri sebagai seorang professional dipertaruhkan, akan jadi apa saya nanti jikalau banyak orang yang memandang kami gila ekslusifitas namun sarat akan kritikan dan ketidakpercayaan dari siapapun yang berhasil menilai kami apa adanya. Menjatuhkan anggota team adalah pekerjaan biasa bagi seorang karyawan, tidak hanya disini sebenarnya, memang begitulah manusia. Bisa dua orang yang berbeda menceritakan keburukannya masing-masing kepada orang yang sama, hingga si pendengar pun bingung siapa yang benar dan terpaksa membuat penilaian sendiri atas dua pribadi yang unik namun berbahaya.
Keluar masuk kebun dan pabrik adalah rutinitas kami di kota ini, tak jarang dalam sebulan hanya seminggu waktu bagi kami untuk menikmati angin segar kota. Sisanya bergulat dengan waktu dan puluhan ribu hectare lahan sawit , belum lagi menghadapi orang-orang dan lokasi yang jauh dari keramaian serta jaringan. Mengikuti cara hidup orang kebun terkadang membuat saya bosan, namun tak ada alasan juga untuk sesekali menikmati perjalanan ke daerah-daerah yang berbeda penuh dengan hal-hal khusus dan unik serta rutinitas yang sifatnya memaksa mereka untuk selalu hidup dalam keteraturan. Berawal dari keberanian dan kebutuhan akan pekerjaan yang lebih memberikan penghasilan yang lebih disitulah awal dari semua perjalananku di daerah yang geliat perkembangannya mulai terasa dengan aneka ragam pembangunan dan kemajemukan masyarakat.
Tidak cukup banyak hal baik yang kudapatkan didaerah ini, tidak cukup berhasil juga saya mendapatkan tempat di hati masyarakat di kota ini hanya karena kekuranganku sering saya merasa tidak nyaman untuk tinggal lama di sini. Ada keinginan kuat dibalik pengharapan untuk segera mendapatkan sebuah pengalaman baru yang bisa memungkinkan aku untuk memulai segala sesuatunya dari awal demi memperbaiki jalan hidup yang lebih dinamis untuk dijalani. Sembilan bulan rasa-rasanya terlalu singkat untuk bisa menggambarkan bagaiman perjalanan panjang di kota ini akan dilakukan, namun tidak ada pilihan ketika sebuah jalan untuk melanjutkan perjalanan baru didaerah lain dibukakan yang nantinya akan menjadi bagian penting dari perjalanan karier ku selanjutnya. Tidak ada keinginan khusus untuk melakukan perubahan, hanya hasrat untuk berubah kearah yang lebih baik lagi menjadi sasaran pencapaian saya berikutnya. Daerah yang telah memberikan saya kesempatan untuk menelusuri setiap kabupaten/ kota di provinsi ini, walau hanya sekedar mengenali tidak berarti kurang bernilai untuk dikenang dalam kehidupan yang sifatnya sesaat saja. Kelemahan yang sering kali menjadi penghalang bagiku untuk menuai keberhasilan kedepan akan menjadi perhatian besar bagiku bagaimana jalan untuk meninggalkan semua kekurangan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kekuatan.
Tak terasa masaku untuk segera meninggalkan kota ini akan segera tiba, walau sudah berbulan-bulan diundur dan menuai ketidakjelasan dari pihak atasan tetap juga masa itu datang dan harus dijalani. Jambi akan selalu di hati dan telah banyak kejadian yang membangun kekuatan karakter saya. Jatuh berulangkali dan hampir tidak ingat bagaimana untuk bangkit kembali sering terjadi dalam hidupku di kota ini dan itu akan tetap menjadi kenangan sekalipun pahit untuk menghitung-hitung nya. Di bandara inilah saya pertama kali mengenal Jambi, dan di bandara ini juga perpisahan itu akan terjadi. Tepat di pagi hari sekitar pukul 8.15 WIB, pesawat saya membawa saya meninggalkan kota bertuah ini. Walau tak banyak tawa yang tercipta tetap bahagia membawa segenggam kenangan yang layak untuk dibagikan pada semua orang yang menginginkan semangat untuk bertanding dalam semua kondisi dan rentang waktu yang tak bisa ditetapkan.
25/04/11
15/04/11
Make you feel my love,..
Lagu Rinto Harahap, yang dinyanyikan kembali Rio Febrian, salah satu penyanyi idola saya mengiringi suasana hatiku yang sedari tadi gundah, ada perasaan dalam hatiku yang benar-benar tidak karuan, berualang kali aku coba menghubungi nomor seseorang yang sudah berhasil membuat aku hampir gila karena lelah berfikir kata apa yang cocok aku utarakan ke dia. Karena tidak pantas lagi aku mengulur-ulur waktu hingga saat yang tidak bisa aku tentukan, “sekarang atau tidak sama sekali”, pikirku dalam hati. Lama aku coba hubungi cia, tetap saja dia tidak mengangkat teleponku. Alternatif lain, terpaksa aku sms.”Cia, kapan kamu tidak lagi sibuk, tolong segera hubungi, ada yang mau aku ngomongin”. Tak lama ada balasan dari cia, yang meminta untuk aku hubungin sekarang. Hampir 1 jam aku ngobrol tentang banyak hal dengan dia, dan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kata sayang yang keluar dari bibirku. “Cia, aku hanya mau tahu, apa kamu memiliki dan berharap juga sama seperti aku berharap bisa mendapatkan sedikit ruang di hatimu?”, sangat rapi pertanyaan itu keluar dari mulutku, walau dengan sedikit terbata-bata. Tapi tetap nuansa romantisnya tetap kuat sejalan dengan ciri khas yang sudah melekat dalam diriku. “Aku hanya ingin mendengar jawaban dari pertanyaan itu, aku tidak membutuhkan sesuatu atau lebih!”, aku coba menegaskan. Sudah cukup lama aku mencoba untuk mengartikan apa saja yang sudah kami lewati hingga aku nekat menjumpai dia ke Jakarta, semua awalnya tidak pernah terpikirkan akan seperti ini, namun apapun mungkin terjadi dan perasaan ku padanya kini telah berubah. Pada awalnya kau cukup berbangga diri dengan anggapan sesaat yang sangat kuat, dimana dia kemungkinan besar mengharapkan kehadiranku juga dalam hidupnya. Tapi ternyata kata sayang yang sering dia utarakan masih ingin dia telaah lagi, tak ada jawaban dari bibirnya menerima aku atau menolak aku. Cukup membuatku tertekan dan mencoba menerima kenyataan bahwa semuanya masih butuh waktu yang lama seperti yang dia inginkan, tapi kini keyakinkan ku sudah mulai goyah dan ingin membiarkan segala sesuatunya kembali bekerja hingga normal adanya.Berawal dari pertemuan yang sangat tidak terduga di bulan juni, awal bagiku memulai kehidupan di kota jambi. Komunikasi yang ekstra membuat suasana nyaman diantara kami makin kuat, tak jarang dia mengeluarkan kata-kata yang bagus dan sedikit membuatku merinding, pembicaraan kami juga bukanlah obrolan yang panas yang tidak layak kami obrolkan, kadang issue yang sedang terjadi di Indonesia juga menjadi salah satu topic dikala kami sudah kehabisan akal untuk mencari topic yang pantas untuk dibahas. Aku mengenal dia sebagai orang yang baik dan berhati tulus ingin mengenalku lebih dalam, dan aku juga demikian, ingin mengenal sosok yang sampai berbulan-bulan dekat melalui suara. Bagaiman parasnya aku tidak pernah perduli ketika dia sesekali mencoba menjelaskan bagaimana tinggi, warna rambut atau betisnya, obrolan yang cukup murahan bagiku yang sering berdampak pada redupnya kedua bola mataku. Bukan tidak mungkin aku lupa akan apa yang dia utarakan tentang dia karena otak ku sudah kekuarangan oksigen yang efeknya sangat kuat sampai-sampai mataku terlelap. Itu hanya sedikit pengalaman lucu kami ketika diawal-awal perkenalan ku dengan dia.
Perempuan yang sampai berbulan-bulan mencoba kukenali dengan sungguh-sungguh yang berujung pada keingintahuan siapa dia sebenarnya yang selalu berusaha mencuri kesempatan mendengarkan suaraku mendendangkan satu bait lagu kesukaanya. Rasa penasaranku semakin memuncak takkala dia mengutarakan kata per kata yang benar-benar sejalan dengan apa yang menjadi visi dan misi ku ke depan.
Hahh,,….
Gadis yang entah darimana bisa datang tiba-tiba, kini telah merasuki sebagian hatiku yang masih gersang dan belum ingin disiram dengan air penyejuk dahaga yang dingin. Tidak jarang, aku melukai hatinya dengan perkataanku yang memang kadang lari dari batas kewajaran, tapi sekalipun demikian dia selalu mau memaafkan itu, tidak hanya sebatas dua atau tiga kali hal itu terjadi. Lucu memang jika terlalu lama dipikirkan berbulan-bulan hidup hanya berhubungan lewat suara, tanpa aku tau siapa dan darimana dia. Keinginan untuk bisa menjumpai dia selalu ada dalam setiap kesempatan, namun langkah kesana seakan berat karena banyaknya pemikiran yang sering mengganggu, yahh misalnya saja, “Apa iya, dia mau jumpa sama ku?, dan apa iya juga, dia tidak akan kecewa melihat aku seperti ini?”, ini sering jadi pernyataan yang tak terjawab dalam benakku, yang kadang aku ingin tanyakan langsung tapi kemungkinan untuk berhasil akan sulit.
Pertemanan kami yang sudah cukup lama yang terjalin baik lewat telepon namun belum bisa direalisasikan untuk jumpa, pada akhirnya memasuki titik terang yaitu mencoba kembali membahas apa yang saat ini sudah menjamur dimasyarakat dari anak kecil hingga kakek-kakek, media penghubung dan jejaring social FB. Saya tidak pernah membayangkan hidup di kota besar tapi tidak mempunyai akun nya. Bagiku lucu saja, tapi dia tetap santai dengan gayanya.”Apa sih guna FB itu?, habis-habisin waktu saja!”, katanya. Sontak aku ngakak tertawa dan berkesempatan untuk meledek dia. Yang entah dibuat-buat atau tidak, mengaku tidak memiliki akun FB. Dia tetap santai dengan semua ejekan saya, yang sebenarnya bukan mau jatuhin dia.
“Jadi gimana ni, masih mau lihat aku gak?”, aku coba pancing, siapa tau dengan itu dia bisa tertarik buka akun dia. “Ntar ja deh, aku lagi sibuk banget ni di kantor!”, jawabnya. Sontak saya terkejut dengan alasan yang dipaksa nyambung ini. “Hahh,!!, apa hubungannya buat akun dengan sibuk di kantor?, emang bikin akun FB sama rumitnya kek bikin KTP?”, pikirku dalam hati. “Yasudah, kalau kamu sibuk, biar aku yang bikinin deh!” aku coba nawarin option lain. Entah dia bingung atau hanya pura-pura bingung, cia mencoba untuk menolak dengan alasan basi. “Gak usah, aku saja ntar yang bikin, tapi belum sekarang ya”, jawabnya dengan nada sedikit serius. Aku coba menanggapi dengan suara yang sedikit memelan, “Ok, aku tunggu deh, gak masalah kalau cuman nungguin itu, lagian aku gak perduli kok sama FB mu, tapi daripada kamu mati penasaran pengen tahu siapa aku temanmu yang sudah berbulan-bulan jadi teman ngobrolmu, lihat saja akun ku, ini email ku, abc_def@yahoo.com”. Pembicaraan malam itu berakhir dengan sms terakhir email itu. Tak ada tanggapan lagi, dan akupun beranjak tidur berhubung sudah malam juga.
Seminggu setelah itu, aku tak pernah lagi mendengar khabar dari cia. Dia memang cukup aneh, selalu datang dan pergi tiba-tiba. Dan memang benar, setelah 7 hari itu dia tidak pernah kirim pesan atau hubungin aku lagi, sore itu tiba-tiba dia sms minta bantuan. “Gi, bikin email sekalian create akun FB aku dong. Terserah apa emailnya, yang penting ada dulu deh!”,benar-benar aneh memang ini cewek, pikirku dalam hati, begitupun aku tetap senang bisa bantu dia, jadi tidak sulit atau harus nunggu berjam-jam untuk membuatkan satu akun FB sama cia. Akun-nya telah jadi dan selanjutnya saya serahkan ke cia untuk melanjutkan apa yang harus dilanjutkan, namun ternyata aku cukup kecewa karena apa yang sudah kukerjakan tidak segera dia lanjutkan, buktinya sampai sekarang belum ada photo dia di akun tersebut. Hanya maaf yang selalu dia utarakan kepadaku ketika seringkali aku menanyakannya. Sebenarnya, aku tidak terlalu perduli dengan bagaimana fisik dia, karena jujur, rasa nyaman sudah jauh-jauh hari terbangun diantara kami berdua, itulah yang sering kupertanyakan kepadanya. Dan jawabannya selalu sejalan dengan apa yang kupikirkan. Karena aku yakin niat baik bisa mengalahkan semuanya untuk urusan perasaan sekalipun. Aku tetap percaya bahwa dia memang mungkin lagi sibuk, atau tidak memiliki kamera untuk mengambil gambar dia. Dan dalam cepat atau lambat, kami pasti bertemu.
Kesempatan untuk ke Jakarta pun benar-benar ada, walau tujuan utama bukan untuk menjumpai dia, tetap jadwal akan diatur dan sebisa mungkin harus bertemu. Hari itu benar-benar sesuai rencana, dan tak ada lagi yang bisa ditutupi, cia sudah lama menunggu di dalam gedung itu memperhatikan setiap lukisan yang dipajang. Aku coba hubungi untuk memastikan orang yang dihadapanku itu dia. Dan ternyata feeling ku benar, perkenalan dari awal pun terjadi dan menghabiskan sepanjang hari itu dengan dia. Rasa nyaman dengan dia semakin terasa dan aku cukup senang dia juga sepertinya merasakan apa yang kurasakan. Hari sudah malam, ketika aku harus pulang lagi ke kota ku.
“Cia, ini hari yang selalu aku tunggu, hari dimana kita bisa berbicara langsung dan saling mengejek kalau memang ada yang pantas untuk dijatuhkan. Aku senang dan sudah lama menantikan ini, tapi aku bukan orang yang dengan gamblang mengutarakan apa yang harus aku utarakan, sekalipun kita sudah sangat sering membahasnya. Aku juga tidak bisa memastikan bagaimana perasaanku saat ini, yang aku coba untuk telusuri dan mau tahu adalah, apakah kamu nyaman dengan saya?, selebihnya aku anggap hanya pelengkap. Dan semoga kita punya kesempatan dilain waktu!”.
Sebelum kakiku melangkahkan masuk kedalam bandara, satu pelukan berhasil aku dapatkan dia yang cukup membuat hatiku tenang meninggalkan dia di kota ini, dan suatu saat masih ada kesempatan untuk mengutarakan apa yang aku rasakan sebenarnya. Gadis yang dulu datang tanpa kuundang ternyata sudah mengubah perasaanku menjadi perasaan yang dipenuhi oleh warna dan rasa. Bahagia dan takut melepas dia sekalipun belum pasti jadi milikku menjadi satu kesatuan. Pikiranku makin berkecamuk hingga puluhan sms beruntun aku kirimkan dan puluhan kata maaf dan terimakasih sudah mengenal gadis baik seperti dia sudah terucap.
The End
31/05/09
MENGENAL SIBINGKE LEBIH DEKAT
PENDAHULUAN
Nama Sibingke banyak diartikan orang diambil dari kata “SINGKE” sejenis binatang yang saya juga tidak tahu dalam bahasa Indonesia disebut apa. Itu menurut banyak orang, mungkin benar karena jenis binatang ini banyak ditemukan didaerah ini. Daerah yang menjadi salah satu desa di Kecamatan Pangaribuan, yang akan menjadi desa pertama yang akan menyambut semua orang yang akan berkunjung ke daerah ini. Wajar memang apabila melakukan perjalanan via Tarutung atau Siborong-borong desa sibingke menjadi pintu masuk menuju lokasi pangaribuan. “Selamat Datang di Kecamatan Pangaribuan akan menjadi suguhan pertama saat saat memasuki daerah yang menjadi perbatasan antara kecamatan Pangaribuan dan Kecamatan Sipahutar. Desa yang sudah sangat lama ada atau berdiri ini memiliki banyak hal yang unik dan menarik untuk diketahui. Desa yang banyak penduduknya tidak mengetahui kapan awal berdirinya perkampungan ini, karena memang daerah perkampungan sangat jarang menurunkan hal-hal kecil seperti kapan berdirinya suatu daerah yang sebenarnya bisa jadi menjadi hal yang sangat besar. Tapi bagaimanapun itu, pasti ada beberapa orang terutama orang tua yang mengetahui banyak hal tentang daerah ini.
KEADAAN ALAM
Sibingke yang menjadi salah satu desa di Provinsi Sumatera Utara terletak di daerah pegunungan yang dikelilingi oleh jurang, itulah salah satu keunikan dari daerah ini, karena kiri kanan, depan belakang, semua lokasi/areal akan berujung dengan jurang yang cukup curam. Tapi tetap masih bisa dibilang aman, karena pengaturan daerah pemukiman dan areal pertanian dibuat sedemikian rupa dan diupayakan untuk tidak terlalu dekat dengan jurang.
Selain dikelilingi jurang, desa ini juga menjadi pintu masuk bagi beberapa desa di Kecamatan Pangaribuan, apabila digambarkan sebagai daerah bisnis, desa ini sangat cocok untuk dikembangkan menjadi lokasi bisnis. Karena selain menjadi pintu masuk pilihan utama bagi semua masyarakat Pangaribuan, juga menjadi Pintu masuk utama bagi dua desa, yaitu Desa Parlombuan dan Desa Sigotom yang tergolong sebagai desa dengan hasil pertanian yang melimpah.
Rata-rata daerah di Kabupaten Tapanuli Utara atau bahkan di Indonesia, dikelilingi oleh sungai, demikian juga dengan daerah sibingke, ada beberapa sungai yang mengelilingi daerah ini, yaitu:
1. Rura (sungai) Simanuban, terletak didaerah perbatasan Sibingke dan Sigotom dan menjadi sungai yang paling banyak dikunjungi, karena selain sungainya jernih dan bersumber dari pegunungan, sungai ini juga terletak dipinggiran jalan dan bertekstur lumayan bagus, walau jalan menuju sungai ini agak curam. Sungai ini akan menjadi sangat ramai apabila musim kemarau, karena harus diakui air menjadi salah satu masalah besar yang belum terpecahkan di desa ini dari dulu, mengingat jarak antara sungai dan daerah pemukiman sangat jauh (tinggi).
2. Aek (Sungai) Bulu, disebut demikian, karena sungai ini terletak dekat dengan area pemukiman yang diberi nama Huta Bulu. Sungai ini tidak sejernih Rura SImanuban, dan telah melewati beberapa desa di Kecamatan Pangaribuan sebelum sampai di Desa Sibingke. Tempatnya strategis dan banyak dimanfaatkan penduduk sebagai daerah pemandian dan penambangan pasir. Sungai ini juga dengan nama yang berbeda akan ditemui di belakang pusat dari desa Sibingke (Sosor SIbingke), kebanyakan penduduk daerah ini menyebutnya Rura Pudi-Pudi, karena memang terletak tersembunyi di daerah belakang pemukiman penduduk yang lumayan jauh ke bawah. Dulu sungai ini sangat ramai dikunjung apalagi hari minggu, sebagai tempat mencuci kain dan sebagainya. Namun sekarang sudah sangat jarang bahkan tidak pernah.
3. Aek Laccinok, penulisannya mungkin tidak seperti itu, tapi begitulah kami menyebutnya. Sungai yang berada di daerah perbatasan Sibingke dan Onan Tukka (daerah sipahutar). Tidak terlalu banyak dikunjungi, hanya sebagian dari anak muda saja yang memanfaatkan sungai ini sebagai daerah pemandian. Sungai ini lebih banyak digunakan sebagai tempat pencucian mobil dan sejenisnya.
Alam Desa Sibingke masih cukup alami mengingat masih banyaknya daerah hutan yang masih alami dan belum terjamah. Jajaran bukit barisan juga masih menjadi pelindung bagi daerah ini. Begitupun, daerah ini sudah perlu untuk was-was melihat banyaknya penduduk yang melakukan penebangan hutan-hutan kecil atas nama perorangan. Karena sudah mulai terasa imbas dari pemanasan global dan kerusakan alam ke desa ini.
KEADAAN WILAYAH
Dengan luas wilayah seluruhnya 12 Km2 atau sekitar 2.61 % dari luas daerah Kecamatan Pangaribuan secara keseluruhan . Dari total luas daerah Sibingke, digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
• 88 ha areal persawahan yang terletak diberbagai titik.
• 957 ha areal tanah kering, baik yang sudah digunakan maupun yang belum dimanfaatkan.
• 80 ha merupakan areal pemukiman
• Dan lain-lain 75 ha.
Sesuai dengan catatan Badan Pusat Statistika kecamatan Pangaribuan tahun 2006, desa sibingke berjarak tidak terlalu jauh dari ibukota kecamatan. Jaraknya sekitar 4 (empat) km apabila dihitung dari kantor kepala desanya.
Disini juaga akan dijelaskan, bahwa desa ini memiliki beberapa system dalam menetapkan areal pemukiman. Yang berdasarkan area pemukimannya, desa ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bagian (dari yang paling jauh), yaitu:
• Rinangolngolan, areal ini merupakan yang paling jauh dan sarana trasnportasi masih sangat payah, melihat kondisi jalan masih sangat kurang memadai. Didiami oleh pendatang ke desa Sibingke, seperti marga Sianturi, Siburian, Simatupang, Silitonga dan Aritonga serta Tambunan.
• Huta Bagasan, asal muasal dari desa Sibingke bermula di lokasi ini. Merupakan jalan masuk bagi penduduk Rinangolngolan. Dan hanya didiami oleh Marga Pakpahan, di areal ini lah terdapat gereja tertua di Desa ini, HKBP sibingke yang pada awalnya berlokasi di pinggiran jalan besar. Selain itu, terdapatnya Pohon beringin besar “JABI-JABI”yang sudah sangat tua. Bahkan diakui sudah ada sebelum desa Sibingke ada. Di akui juga, bahwa Jabi-Jabi ini menjadi penyokong areal pemukiman penduduk huta bagasan.
• Harianja, dinamakan demikian karena memang, awalnya disediakan bagi pendatang yang bermarga Harianja. Lokasinya dekat dengan jalan tapi tidak mengikuti arul jalan utama. Namun diatur dalam satu areal yang memang sangat banyak ditemui di daerah pedesaan di Indonesia.
• Sosor Sibingke, merupakan pusat desa Sibingke, yang berada di sepanjang jalan utama. Walau memang tetap ada sebagian yang mengumpul sebagai cabang dari areal ini.
• Banjar balige, lokasi pemukiman yang awalnya diberikan bagi kelompok pendatang yang sebenarnya masih kerabat dari masyarakat desa ini (masih satu rumpun marga).
• Huta Bulu, lokasi pemukiman yang sedikit tersembunyi, tapi dekat dengan jalan utama.
• Ada beberapa areal pemukiman lagi yang memang menjadi lokasi mula-mula penduduk ketika menjalani kehidupan di desa ini. Penduduk yang tinggal di areal sepanjang jalan utama, merupakan pindahan dari daerah mula-mula ini dan juga Huta Bagasan dan Huta bulu. Tapi tetap Huta Bagasan menjadi awal mula perkampungan di Sibingke.
KEHIDUPAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT
1. PERTANIAN
Sebagian besar penduduk di Kec.Pangaribuan hidup dari hasil sumber pertanian. Termasuk Sibingke yang apabila dibandingkan dulu dengan sekarang sudah mengalami banyak kemajuan yang cukup signifikan. Dulu desa sibingke dicap sebagai “SIBINGKE NALOSOK”oleh penduduk desa tetangga, mungkin itu memang cocok untuk keadaan penduduk saat itu. Walau memang ungkapan itu belum tentu benar, karena dari zaman kakek nenek kami, kehidupan di desa ini sudah lumayan, walau memang harus diakui masih tetap ada penduduk yang kurang mampu, tapi tidak sampai menderita dan mengalami nasib kelaparan atau kekurangan bahan pangan.
Hampir 95 % penduduk Sibingke merupakan petani, bahkan masyarakat dengan profesi lain seperti Guru, Bidan, dan PNS kantor pemerintahan juga hidup sebagai petani. Jadi bisa dibayangkan bagaimana Sibingke dikala musim kerja di Sawah atau Ladang. Dari segi hasil tani, belum ada sesuatu yang khusus di hasilkan apabila diperbandingkan dengan desa lain. Adapun hasil pertanian yang paling banyak ditemukan adalah:
• PADI
Hasil utama yang dikelola sekali setahun, dan hasil nya sebagian besar digunakan sebagai stok panagn untuk satu tahun. Tapi sebagian penduduk juga menjualnya berupa beras, tapi tetap dengan perhitungan bahwasanya stok bahan pangan untuk satu tahun sebelum panen tahun berikutnya tiba cukup.
Desa Sibingke pada tahun 2006, memproduksi Padi (dari sawah) sebesar 465.09 Ton, apabila dihitung produksi per Ha lahan sawah, berkisar 52.85 Ton dan masih berada dibawah rata-rata produksi padi seKec.Pangaribuan 55.35 Ton/Ha.
Selain lahan sawah, ladang juga diupayakan untuk menghasilkan padi, dan untuk tahun 2006 berdasarkan perhitungan BPS. Sibingke memproduksi Padi sebesar 140.37 ton, hasil ini masih lebih besar dari rata-rata produksi padi dari ladang se kecamatan Pangaribuan.
• KOPI SIGARAR UTANG/ PELLET.
Sebutannya di desa ini atau di Pangaribuan secara umum adalah demikian. Kopi yang antara masa tanam sampai dengan masa panen tidak terlalu lama (Kurang lebih 1.5 tahun), menjadi tanaman menghasilkan yang semua keluarga menanamnya. Dari hasil panen kopi inilah penduduk berharap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya selain dari sumber tani lain. Sesuai catatan BPS tahun 2006, desa Sibingke menghasilkan 53.91 Ton kopi jenis ini dari luas lahan 53.65 Ha (lahan menghasilkan). Total lahan kopi 93 Ha. Sementara Produksi pangaribuan dari lahan seluas 2821 Ha adalah 1635.47 Ha.
• KACANG-KACANGAN
Seperti kacan merah, kacang tanah, kacang kuning.
• JAGUNG
• NENAS,
Hanya diusahakan oleh beberapa penduduk saja.
• KOPI ROBUSTA
Tidak terlalu banyak lagi dijumpai di desa ini, dan sudah banyak diganti dengan Kopi sigarar utang.
• SAYUR-SAYURAN
Desa Sibingke terkenal dengan penghasil sayur, untuk konsumsi masyarakat pangaribuan. Sistem pertaniannya adalah kecil-kecilan, atau bahkan dibiarkan tumbuh disela-sela tanaman lain. Begitupun, sayur telah banyak membantu perekonomian sebagian kecil masyarakat yang mengusahakannya.
• CABE
Hasil tani ini mulai diperkirakan bakal mendobrak pertanian desa Sibingke, dengan keberhasilan beberapa penduduk, diharapkan membawa dampak bagi penduduk lain untuk belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain.
2. PETERNAKAN
Di desa sibingke, peternakan hanya dilakukan secara kecil-kecilan, dan dikelola oleh hampir semua keluarga. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bisnis Peternakan menjadi salah satu kendala yang menyebabkan tidak beraninya masyarakat. Ternak yang paling banyak diusahakan masyarakat.
• BABI
Peternakan babi tidak terlalu besar, hanya beberapa keluarga yang mengusahakan, dan menurut catatan BPS tahun 2006, sejumlah 71 ekor terdapat ternak babi di desa Sibingke. Apabila dilakuakn penghitungan kembali tahun ini, lebih dari 200 ekor babi mungkin dapat ditemukan di desa ini. Peternakan babi sebenarnya sangat menjanjikan untuk dikelola. Tapi masyarakat desa Sibingke lebih concern dengan pertanian yang hampir memakan semua waktu kerja penduduk.
• KERBAU
Jumlah ternak kerbau di Desa Sibingke hanya beberapa ekor saja, dan tidak banyak yang memiliki ternak ini.
• UNGGAS (AYAM)
Hampir setiap keluarga di desa Sibingke menjalankan bisnis ternak ayam. Dan kebanyakan dijalankan hanya untuk konsumsi sendiri. Walau memang ada sebagian orang yang menjualnya.
3. PERDAGANGAN BESAR DAN KECIL
Terdapat 14 penduduk yang mengusahakan usaha dagang di Desa Sibingke, baik sebagi pedagang eceran, maupun sebagai pedagang besar. Yang menjadi perantara masyrakat, untuk memasarkan hasil bumi dari desa Sibingke. Ini masih baru dijalankan di Sibingke, karena sebelumnya masyarakat masih menjual produksi hasil tani ke pedagang dari desa tetangga.
4.USAHA TAMBANG PASIR
Usaha ini dijalankan oleh 2 keluarga yang menjadikan Aek Bulu dan Rura Simanuban sebagai lahan galian. Produksi pasir tersebut dijual kepada pengusaha bisnis bahan bangunan di Pangaribuan. Bisnis ini sebenarnya tidak terlalu didukung untuk dijalankan di Desa ini, akan tetapi karena masih kuatnya system adat yang menyebutkan bahwa area itu adalah hak dari perorangan, menyebabkan sulitnya untuk dicegah.
KEPENDUDUKAN
Dengan jumlah penduduk sekitar 936 jiwa (sesuai data BPS tahun 2006) dengan tingkat kepadatan penduduk 78 jiwa/ km2. Dibawah ini akan dijelaskan perincian kependudukan di desa ini (sesuai data tahun 2006):
• Laki-laki : 492 Jiwa
• Perempuan : 444 Jiwa
• Jumlah Rumah Tangga : 199 RT
• Rata-rata/ Rumah Tangga : 5 orang
• Jumlah Rumah Tangga yang dinyatakan masih dalam status miskin : 76, dengan anggota rumah tangga miskin 306 jiwa.
AGAMA
Dari segi Agama, penduduk desa ini mayoritas beragama Kristen Protestan (sekitar 90%), dan sisanya adalah Kristen Katolik yang banyak dianut oleh masyarakat daerah bagian Rinangolngolan. Tidak jelas tahun berapa tepatnya agama Kristen protestan memasuki desa ini, namun apabila dilihat dari umur gereja HKBP sebagai gereja pertama dan gereja yang memiliki jemaat paling banyak di desa ini. Desa ini sudah sangat lama mengenal Agama Kristen Protestan dan menyakininya. Namun tak jelas juga bagaimana proses masuknya gereja-gereja lain seperti yang disebutkan dibawah. Namun apabila ditinjau ulang kembali, factor masuknya pendatang mungkin menjadi salah satu factor utama berdirinya gereja-gereja lain. Selain itu perselisihan antar penduduk juga menjadi salah satu penyebab utama dan lumayan kuat dijadikan sebagai alasan diluar alasan yang pertama.
HKBP sebagai gereja suku, yang diartikan oleh orang banyak sebagai gerejanya Suku Batak Toba, yang walaupun pada kenyataanya merupakan singkatan dari nama 4 orang missionaries yang pernah datang ke tanah Batak. Awalnya gereja HKBP bertempat di daerah pinggiran jalan utama, tepatnya lokasi SD N 173206 sekarang, namun entah tahun berapa dipindahkan ke daerah Huta Bagasan.
Total tempat ibadah di desa ini ada sebanyak 7 gereja dengan perincian sebagai berikut;
• HKBP (1)
• HKI (2)
• PENTAKOSTA (2)
• GBI (1)
• KATOLIK (1)
PENDIDIKAN
Awalnya di desa ini, terdapat 2 SD, yaitu ; SD N. 173206 (sekolah pertama) dan SD N. 177043.
SD N. 177043 ini sudah lebih dari 10 tahun terakhir ditutup. Alasan utamanya adalah masalah kekurangan tenaga pengajar, awalnya dua sekolah ini hanya digabungkan dengan membagi kelas. Namun kedepannya, karena krang efisiennya metode seperti itu, berakhir dengan penggabungan secara permanen. SD N.177043 resmi ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan tidak terurus lagi hingga kini. Padahal bangunan sekolah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana lain untuk mendukung kinerja desa ini, seperti Puskesmas atau sanggar Karang Taruna desa.
Setelah dua SD tersebut tidak ada lagi sekolah lain di desa ini, bagi semua anak sekolah yang ingin melanjutkan pendidikan ke SLTP harus menjalani sekitar 5 km lagi ke pusat kec.Pangaribuan, karena itu merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang terdekat dengan desa. Total 5 SLTP terdapat di kec.Pangaribuan, namun anak sekolah dari Sibingke memilih SLTP N. 1 Pangaribuan sebagai sekolah lanjutannya, dan bagai sebagaian kecil saja yang berani melanjutkan pendidikan di luar daerah. Sementara untuk SMA, pelajar-pelajar dari Sibingke mulai menentukan beragam pilihan, walau memang terdapat juga SMA di kecamatan, tak sedikit juga yang berniat untuk mulai mengenal dunia luar dan mulai belajar mandiri dengan menjadi orang asing di daerah atau kabupaten/ kota lain, seperti: Balige, Tarutung, Siantar ataupun Medan. Ini menjadi tahap awal dari keberhasilan anak-anak Sibingke untuk menguatkan tekad dalam mengecam pendidikan yang lebih tinggi hingga bangku perguruan tinggi, walau memang jumlahnya hanyalah beberapa orang saja.
Masalah pendidikan, desa Sibingke mempunyai segudang masalah yang memang wajar jika dikaitkan dengan kenakalan remaja. Masalah merokok, bolos sekolah dan berusaha menghindar dari tugas untuk membantu orang tua sehabis jam sekolah. Miris memang kelihatannya, tapi itu bukanlah hal yang asing di desa ini. Dari dulu hingga sekarang masalah yang satu ini selalu diwariskan ke generasi berikutnya. Dan tidak sedikit juga putra-putri daerah yang berhenti di tengah jalan, tanpa menyelesaikan sekolah yang sudah sempat dijalani.
Tingkat buta huruf atau buta aksara, di desa ini hanya beberapa orang saja, dan itupun hanya sebagian kecil dari orang tua yang sudah berumur 60 an keatas.
KUALITAS SARANA DAN PRASARANA
Terdapat beberapa sarana dan prasarana yang cukup vital di desa ini diantaranya sudah disebutkan di pembahasan-pembahasan sebelumnya, adapun sarana dan prasarana tersebut adalah:
a. Sekolah
Terdapat 2 (dua) sekolah pendidikan dasar. Dimana satu diantaranya sudah di non aktifkan.
Tenaga pengajar yang menangani sisa satu sekolah, walaupun status sebagian pengajar masih atasa nama sekolah yang sudah ditutup. Terdapat 9 tenaga pengajar di sekolah ini dengan kepala sekolah 1 (satu) orang dan pegawai 1 (satu) orang.
b. Puskesmas
Fasilitas ini baru disediakan pada tahun 2007, dan apabila ditinjua kembali penggunaannya, belum terlalu aktif. Karena apabila ditinjau kembali masalah penetapan lokasi, adalah sebuah kesalahan menempatkannya di salah satu pusat pemukiman yang berada di ujung desa (huta bulu). Mungkin karena alasan terlalu jauh atau karena alasan lain, PUSKESMAS ini belum maksimal penggunaannya.
Di desa Sibingke terdapat 1 (satu) orang bidan, yang sudah cukup lama ditugaskan sebagai Bidan Desa, Bidan inilah yang menjadi tenaga medis yang menangani semua masyarakat desa.
c. Kantor Kepala Desa
Kantor kepala desa, desa Sibingke terdapat di daerah Sosor Sibingke. Rumah kepala desa langsung dijadikan sebagai kantor.
d. Sarana Jalan
Kualitas jalan di daerah ini bisa dikatakan sudah dalam keadaan bagus, terakhir kali diperbaiki pada tahun 2008 yang lalu. Jalan utama ini memang merupakan bagian dari jalan umum yang dicanangkan untuk digunakan sebagai jalan lintas Sumatera.
e. Jembatan Penghubung
Terdapat jembatan buatan masyarakat yang menghubungkan daerah Huta Bagasan dengan Rinangolngolan, dan merupakan jalan utama bagi penduduk setempat.
HUBUNGAN SOSIAL MASYARAKAT
Sama seperti daerah lain di Kabupaten Tapanuli Utara, masalah social masyarakat di daerah ini tidak akan pernah bisa dilepaskan dari masalah adat, yang memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan social masyarakat desa. Daerah yang pada awalnya didiami oleh penduduk bermarga PAKPAHAN HUTANAMORA, dan membuka diri dengan menerima masyarakat bermarga lain. Inilah yang pada akhirnya disebut sebagai masyarakat tetap daerah ini hingga sekarang yang apabila dihitung dari generasi pertama, sudah puluhan generasi telah menikmati hidup di daerah ini.
Adapun marga yang ada di desa ini adalah:
• PAKPAHAN, menempati hampir sebagian besar lokasi pemukiman, kecuali daerah Lumban Harianja dan Rinangolngolan.
• HARIANJA
• TAMBUNAN (Satu Keluarga Saja)
• SIMATUPANG
• SIANTURI
• SIBURIAN
• NAPITUPULU
• SIMANGUNSONG (satu keluarga)
• SEMBIRING (satu keluarga)
. SITINJAK
Menggambarkan hubungan sosial di daerah ini, sama jika ingin membandingkan masalah social di daerah lain. Perselisihan dan pertengkaran sering kali terjadi yang akibatnya seringkali menimbulkan perpisahan dalam adat. Walaupun itu dalam sebuah keluarga besar, masalah sosial yang satu ini adalah masalah yang paling susah dalam menemukan jalan keluarnya.
"bahan bacaan : Kecamatan Pangaribuan dalam Angka Tahun 2007, dipublikasikan oleh BPS Tapanuli Utara"
Nama Sibingke banyak diartikan orang diambil dari kata “SINGKE” sejenis binatang yang saya juga tidak tahu dalam bahasa Indonesia disebut apa. Itu menurut banyak orang, mungkin benar karena jenis binatang ini banyak ditemukan didaerah ini. Daerah yang menjadi salah satu desa di Kecamatan Pangaribuan, yang akan menjadi desa pertama yang akan menyambut semua orang yang akan berkunjung ke daerah ini. Wajar memang apabila melakukan perjalanan via Tarutung atau Siborong-borong desa sibingke menjadi pintu masuk menuju lokasi pangaribuan. “Selamat Datang di Kecamatan Pangaribuan akan menjadi suguhan pertama saat saat memasuki daerah yang menjadi perbatasan antara kecamatan Pangaribuan dan Kecamatan Sipahutar. Desa yang sudah sangat lama ada atau berdiri ini memiliki banyak hal yang unik dan menarik untuk diketahui. Desa yang banyak penduduknya tidak mengetahui kapan awal berdirinya perkampungan ini, karena memang daerah perkampungan sangat jarang menurunkan hal-hal kecil seperti kapan berdirinya suatu daerah yang sebenarnya bisa jadi menjadi hal yang sangat besar. Tapi bagaimanapun itu, pasti ada beberapa orang terutama orang tua yang mengetahui banyak hal tentang daerah ini.
KEADAAN ALAM
Sibingke yang menjadi salah satu desa di Provinsi Sumatera Utara terletak di daerah pegunungan yang dikelilingi oleh jurang, itulah salah satu keunikan dari daerah ini, karena kiri kanan, depan belakang, semua lokasi/areal akan berujung dengan jurang yang cukup curam. Tapi tetap masih bisa dibilang aman, karena pengaturan daerah pemukiman dan areal pertanian dibuat sedemikian rupa dan diupayakan untuk tidak terlalu dekat dengan jurang.
Selain dikelilingi jurang, desa ini juga menjadi pintu masuk bagi beberapa desa di Kecamatan Pangaribuan, apabila digambarkan sebagai daerah bisnis, desa ini sangat cocok untuk dikembangkan menjadi lokasi bisnis. Karena selain menjadi pintu masuk pilihan utama bagi semua masyarakat Pangaribuan, juga menjadi Pintu masuk utama bagi dua desa, yaitu Desa Parlombuan dan Desa Sigotom yang tergolong sebagai desa dengan hasil pertanian yang melimpah.
Rata-rata daerah di Kabupaten Tapanuli Utara atau bahkan di Indonesia, dikelilingi oleh sungai, demikian juga dengan daerah sibingke, ada beberapa sungai yang mengelilingi daerah ini, yaitu:
1. Rura (sungai) Simanuban, terletak didaerah perbatasan Sibingke dan Sigotom dan menjadi sungai yang paling banyak dikunjungi, karena selain sungainya jernih dan bersumber dari pegunungan, sungai ini juga terletak dipinggiran jalan dan bertekstur lumayan bagus, walau jalan menuju sungai ini agak curam. Sungai ini akan menjadi sangat ramai apabila musim kemarau, karena harus diakui air menjadi salah satu masalah besar yang belum terpecahkan di desa ini dari dulu, mengingat jarak antara sungai dan daerah pemukiman sangat jauh (tinggi).
2. Aek (Sungai) Bulu, disebut demikian, karena sungai ini terletak dekat dengan area pemukiman yang diberi nama Huta Bulu. Sungai ini tidak sejernih Rura SImanuban, dan telah melewati beberapa desa di Kecamatan Pangaribuan sebelum sampai di Desa Sibingke. Tempatnya strategis dan banyak dimanfaatkan penduduk sebagai daerah pemandian dan penambangan pasir. Sungai ini juga dengan nama yang berbeda akan ditemui di belakang pusat dari desa Sibingke (Sosor SIbingke), kebanyakan penduduk daerah ini menyebutnya Rura Pudi-Pudi, karena memang terletak tersembunyi di daerah belakang pemukiman penduduk yang lumayan jauh ke bawah. Dulu sungai ini sangat ramai dikunjung apalagi hari minggu, sebagai tempat mencuci kain dan sebagainya. Namun sekarang sudah sangat jarang bahkan tidak pernah.
3. Aek Laccinok, penulisannya mungkin tidak seperti itu, tapi begitulah kami menyebutnya. Sungai yang berada di daerah perbatasan Sibingke dan Onan Tukka (daerah sipahutar). Tidak terlalu banyak dikunjungi, hanya sebagian dari anak muda saja yang memanfaatkan sungai ini sebagai daerah pemandian. Sungai ini lebih banyak digunakan sebagai tempat pencucian mobil dan sejenisnya.
Alam Desa Sibingke masih cukup alami mengingat masih banyaknya daerah hutan yang masih alami dan belum terjamah. Jajaran bukit barisan juga masih menjadi pelindung bagi daerah ini. Begitupun, daerah ini sudah perlu untuk was-was melihat banyaknya penduduk yang melakukan penebangan hutan-hutan kecil atas nama perorangan. Karena sudah mulai terasa imbas dari pemanasan global dan kerusakan alam ke desa ini.
KEADAAN WILAYAH
Dengan luas wilayah seluruhnya 12 Km2 atau sekitar 2.61 % dari luas daerah Kecamatan Pangaribuan secara keseluruhan . Dari total luas daerah Sibingke, digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
• 88 ha areal persawahan yang terletak diberbagai titik.
• 957 ha areal tanah kering, baik yang sudah digunakan maupun yang belum dimanfaatkan.
• 80 ha merupakan areal pemukiman
• Dan lain-lain 75 ha.
Sesuai dengan catatan Badan Pusat Statistika kecamatan Pangaribuan tahun 2006, desa sibingke berjarak tidak terlalu jauh dari ibukota kecamatan. Jaraknya sekitar 4 (empat) km apabila dihitung dari kantor kepala desanya.
Disini juaga akan dijelaskan, bahwa desa ini memiliki beberapa system dalam menetapkan areal pemukiman. Yang berdasarkan area pemukimannya, desa ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bagian (dari yang paling jauh), yaitu:
• Rinangolngolan, areal ini merupakan yang paling jauh dan sarana trasnportasi masih sangat payah, melihat kondisi jalan masih sangat kurang memadai. Didiami oleh pendatang ke desa Sibingke, seperti marga Sianturi, Siburian, Simatupang, Silitonga dan Aritonga serta Tambunan.
• Huta Bagasan, asal muasal dari desa Sibingke bermula di lokasi ini. Merupakan jalan masuk bagi penduduk Rinangolngolan. Dan hanya didiami oleh Marga Pakpahan, di areal ini lah terdapat gereja tertua di Desa ini, HKBP sibingke yang pada awalnya berlokasi di pinggiran jalan besar. Selain itu, terdapatnya Pohon beringin besar “JABI-JABI”yang sudah sangat tua. Bahkan diakui sudah ada sebelum desa Sibingke ada. Di akui juga, bahwa Jabi-Jabi ini menjadi penyokong areal pemukiman penduduk huta bagasan.
• Harianja, dinamakan demikian karena memang, awalnya disediakan bagi pendatang yang bermarga Harianja. Lokasinya dekat dengan jalan tapi tidak mengikuti arul jalan utama. Namun diatur dalam satu areal yang memang sangat banyak ditemui di daerah pedesaan di Indonesia.
• Sosor Sibingke, merupakan pusat desa Sibingke, yang berada di sepanjang jalan utama. Walau memang tetap ada sebagian yang mengumpul sebagai cabang dari areal ini.
• Banjar balige, lokasi pemukiman yang awalnya diberikan bagi kelompok pendatang yang sebenarnya masih kerabat dari masyarakat desa ini (masih satu rumpun marga).
• Huta Bulu, lokasi pemukiman yang sedikit tersembunyi, tapi dekat dengan jalan utama.
• Ada beberapa areal pemukiman lagi yang memang menjadi lokasi mula-mula penduduk ketika menjalani kehidupan di desa ini. Penduduk yang tinggal di areal sepanjang jalan utama, merupakan pindahan dari daerah mula-mula ini dan juga Huta Bagasan dan Huta bulu. Tapi tetap Huta Bagasan menjadi awal mula perkampungan di Sibingke.
KEHIDUPAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT
1. PERTANIAN
Sebagian besar penduduk di Kec.Pangaribuan hidup dari hasil sumber pertanian. Termasuk Sibingke yang apabila dibandingkan dulu dengan sekarang sudah mengalami banyak kemajuan yang cukup signifikan. Dulu desa sibingke dicap sebagai “SIBINGKE NALOSOK”oleh penduduk desa tetangga, mungkin itu memang cocok untuk keadaan penduduk saat itu. Walau memang ungkapan itu belum tentu benar, karena dari zaman kakek nenek kami, kehidupan di desa ini sudah lumayan, walau memang harus diakui masih tetap ada penduduk yang kurang mampu, tapi tidak sampai menderita dan mengalami nasib kelaparan atau kekurangan bahan pangan.
Hampir 95 % penduduk Sibingke merupakan petani, bahkan masyarakat dengan profesi lain seperti Guru, Bidan, dan PNS kantor pemerintahan juga hidup sebagai petani. Jadi bisa dibayangkan bagaimana Sibingke dikala musim kerja di Sawah atau Ladang. Dari segi hasil tani, belum ada sesuatu yang khusus di hasilkan apabila diperbandingkan dengan desa lain. Adapun hasil pertanian yang paling banyak ditemukan adalah:
• PADI
Hasil utama yang dikelola sekali setahun, dan hasil nya sebagian besar digunakan sebagai stok panagn untuk satu tahun. Tapi sebagian penduduk juga menjualnya berupa beras, tapi tetap dengan perhitungan bahwasanya stok bahan pangan untuk satu tahun sebelum panen tahun berikutnya tiba cukup.
Desa Sibingke pada tahun 2006, memproduksi Padi (dari sawah) sebesar 465.09 Ton, apabila dihitung produksi per Ha lahan sawah, berkisar 52.85 Ton dan masih berada dibawah rata-rata produksi padi seKec.Pangaribuan 55.35 Ton/Ha.
Selain lahan sawah, ladang juga diupayakan untuk menghasilkan padi, dan untuk tahun 2006 berdasarkan perhitungan BPS. Sibingke memproduksi Padi sebesar 140.37 ton, hasil ini masih lebih besar dari rata-rata produksi padi dari ladang se kecamatan Pangaribuan.
• KOPI SIGARAR UTANG/ PELLET.
Sebutannya di desa ini atau di Pangaribuan secara umum adalah demikian. Kopi yang antara masa tanam sampai dengan masa panen tidak terlalu lama (Kurang lebih 1.5 tahun), menjadi tanaman menghasilkan yang semua keluarga menanamnya. Dari hasil panen kopi inilah penduduk berharap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya selain dari sumber tani lain. Sesuai catatan BPS tahun 2006, desa Sibingke menghasilkan 53.91 Ton kopi jenis ini dari luas lahan 53.65 Ha (lahan menghasilkan). Total lahan kopi 93 Ha. Sementara Produksi pangaribuan dari lahan seluas 2821 Ha adalah 1635.47 Ha.
• KACANG-KACANGAN
Seperti kacan merah, kacang tanah, kacang kuning.
• JAGUNG
• NENAS,
Hanya diusahakan oleh beberapa penduduk saja.
• KOPI ROBUSTA
Tidak terlalu banyak lagi dijumpai di desa ini, dan sudah banyak diganti dengan Kopi sigarar utang.
• SAYUR-SAYURAN
Desa Sibingke terkenal dengan penghasil sayur, untuk konsumsi masyarakat pangaribuan. Sistem pertaniannya adalah kecil-kecilan, atau bahkan dibiarkan tumbuh disela-sela tanaman lain. Begitupun, sayur telah banyak membantu perekonomian sebagian kecil masyarakat yang mengusahakannya.
• CABE
Hasil tani ini mulai diperkirakan bakal mendobrak pertanian desa Sibingke, dengan keberhasilan beberapa penduduk, diharapkan membawa dampak bagi penduduk lain untuk belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain.
2. PETERNAKAN
Di desa sibingke, peternakan hanya dilakukan secara kecil-kecilan, dan dikelola oleh hampir semua keluarga. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bisnis Peternakan menjadi salah satu kendala yang menyebabkan tidak beraninya masyarakat. Ternak yang paling banyak diusahakan masyarakat.
• BABI
Peternakan babi tidak terlalu besar, hanya beberapa keluarga yang mengusahakan, dan menurut catatan BPS tahun 2006, sejumlah 71 ekor terdapat ternak babi di desa Sibingke. Apabila dilakuakn penghitungan kembali tahun ini, lebih dari 200 ekor babi mungkin dapat ditemukan di desa ini. Peternakan babi sebenarnya sangat menjanjikan untuk dikelola. Tapi masyarakat desa Sibingke lebih concern dengan pertanian yang hampir memakan semua waktu kerja penduduk.
• KERBAU
Jumlah ternak kerbau di Desa Sibingke hanya beberapa ekor saja, dan tidak banyak yang memiliki ternak ini.
• UNGGAS (AYAM)
Hampir setiap keluarga di desa Sibingke menjalankan bisnis ternak ayam. Dan kebanyakan dijalankan hanya untuk konsumsi sendiri. Walau memang ada sebagian orang yang menjualnya.
3. PERDAGANGAN BESAR DAN KECIL
Terdapat 14 penduduk yang mengusahakan usaha dagang di Desa Sibingke, baik sebagi pedagang eceran, maupun sebagai pedagang besar. Yang menjadi perantara masyrakat, untuk memasarkan hasil bumi dari desa Sibingke. Ini masih baru dijalankan di Sibingke, karena sebelumnya masyarakat masih menjual produksi hasil tani ke pedagang dari desa tetangga.
4.USAHA TAMBANG PASIR
Usaha ini dijalankan oleh 2 keluarga yang menjadikan Aek Bulu dan Rura Simanuban sebagai lahan galian. Produksi pasir tersebut dijual kepada pengusaha bisnis bahan bangunan di Pangaribuan. Bisnis ini sebenarnya tidak terlalu didukung untuk dijalankan di Desa ini, akan tetapi karena masih kuatnya system adat yang menyebutkan bahwa area itu adalah hak dari perorangan, menyebabkan sulitnya untuk dicegah.
KEPENDUDUKAN
Dengan jumlah penduduk sekitar 936 jiwa (sesuai data BPS tahun 2006) dengan tingkat kepadatan penduduk 78 jiwa/ km2. Dibawah ini akan dijelaskan perincian kependudukan di desa ini (sesuai data tahun 2006):
• Laki-laki : 492 Jiwa
• Perempuan : 444 Jiwa
• Jumlah Rumah Tangga : 199 RT
• Rata-rata/ Rumah Tangga : 5 orang
• Jumlah Rumah Tangga yang dinyatakan masih dalam status miskin : 76, dengan anggota rumah tangga miskin 306 jiwa.
AGAMA
Dari segi Agama, penduduk desa ini mayoritas beragama Kristen Protestan (sekitar 90%), dan sisanya adalah Kristen Katolik yang banyak dianut oleh masyarakat daerah bagian Rinangolngolan. Tidak jelas tahun berapa tepatnya agama Kristen protestan memasuki desa ini, namun apabila dilihat dari umur gereja HKBP sebagai gereja pertama dan gereja yang memiliki jemaat paling banyak di desa ini. Desa ini sudah sangat lama mengenal Agama Kristen Protestan dan menyakininya. Namun tak jelas juga bagaimana proses masuknya gereja-gereja lain seperti yang disebutkan dibawah. Namun apabila ditinjau ulang kembali, factor masuknya pendatang mungkin menjadi salah satu factor utama berdirinya gereja-gereja lain. Selain itu perselisihan antar penduduk juga menjadi salah satu penyebab utama dan lumayan kuat dijadikan sebagai alasan diluar alasan yang pertama.
HKBP sebagai gereja suku, yang diartikan oleh orang banyak sebagai gerejanya Suku Batak Toba, yang walaupun pada kenyataanya merupakan singkatan dari nama 4 orang missionaries yang pernah datang ke tanah Batak. Awalnya gereja HKBP bertempat di daerah pinggiran jalan utama, tepatnya lokasi SD N 173206 sekarang, namun entah tahun berapa dipindahkan ke daerah Huta Bagasan.
Total tempat ibadah di desa ini ada sebanyak 7 gereja dengan perincian sebagai berikut;
• HKBP (1)
• HKI (2)
• PENTAKOSTA (2)
• GBI (1)
• KATOLIK (1)
PENDIDIKAN
Awalnya di desa ini, terdapat 2 SD, yaitu ; SD N. 173206 (sekolah pertama) dan SD N. 177043.
SD N. 177043 ini sudah lebih dari 10 tahun terakhir ditutup. Alasan utamanya adalah masalah kekurangan tenaga pengajar, awalnya dua sekolah ini hanya digabungkan dengan membagi kelas. Namun kedepannya, karena krang efisiennya metode seperti itu, berakhir dengan penggabungan secara permanen. SD N.177043 resmi ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan tidak terurus lagi hingga kini. Padahal bangunan sekolah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana lain untuk mendukung kinerja desa ini, seperti Puskesmas atau sanggar Karang Taruna desa.
Setelah dua SD tersebut tidak ada lagi sekolah lain di desa ini, bagi semua anak sekolah yang ingin melanjutkan pendidikan ke SLTP harus menjalani sekitar 5 km lagi ke pusat kec.Pangaribuan, karena itu merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang terdekat dengan desa. Total 5 SLTP terdapat di kec.Pangaribuan, namun anak sekolah dari Sibingke memilih SLTP N. 1 Pangaribuan sebagai sekolah lanjutannya, dan bagai sebagaian kecil saja yang berani melanjutkan pendidikan di luar daerah. Sementara untuk SMA, pelajar-pelajar dari Sibingke mulai menentukan beragam pilihan, walau memang terdapat juga SMA di kecamatan, tak sedikit juga yang berniat untuk mulai mengenal dunia luar dan mulai belajar mandiri dengan menjadi orang asing di daerah atau kabupaten/ kota lain, seperti: Balige, Tarutung, Siantar ataupun Medan. Ini menjadi tahap awal dari keberhasilan anak-anak Sibingke untuk menguatkan tekad dalam mengecam pendidikan yang lebih tinggi hingga bangku perguruan tinggi, walau memang jumlahnya hanyalah beberapa orang saja.
Masalah pendidikan, desa Sibingke mempunyai segudang masalah yang memang wajar jika dikaitkan dengan kenakalan remaja. Masalah merokok, bolos sekolah dan berusaha menghindar dari tugas untuk membantu orang tua sehabis jam sekolah. Miris memang kelihatannya, tapi itu bukanlah hal yang asing di desa ini. Dari dulu hingga sekarang masalah yang satu ini selalu diwariskan ke generasi berikutnya. Dan tidak sedikit juga putra-putri daerah yang berhenti di tengah jalan, tanpa menyelesaikan sekolah yang sudah sempat dijalani.
Tingkat buta huruf atau buta aksara, di desa ini hanya beberapa orang saja, dan itupun hanya sebagian kecil dari orang tua yang sudah berumur 60 an keatas.
KUALITAS SARANA DAN PRASARANA
Terdapat beberapa sarana dan prasarana yang cukup vital di desa ini diantaranya sudah disebutkan di pembahasan-pembahasan sebelumnya, adapun sarana dan prasarana tersebut adalah:
a. Sekolah
Terdapat 2 (dua) sekolah pendidikan dasar. Dimana satu diantaranya sudah di non aktifkan.
Tenaga pengajar yang menangani sisa satu sekolah, walaupun status sebagian pengajar masih atasa nama sekolah yang sudah ditutup. Terdapat 9 tenaga pengajar di sekolah ini dengan kepala sekolah 1 (satu) orang dan pegawai 1 (satu) orang.
b. Puskesmas
Fasilitas ini baru disediakan pada tahun 2007, dan apabila ditinjua kembali penggunaannya, belum terlalu aktif. Karena apabila ditinjau kembali masalah penetapan lokasi, adalah sebuah kesalahan menempatkannya di salah satu pusat pemukiman yang berada di ujung desa (huta bulu). Mungkin karena alasan terlalu jauh atau karena alasan lain, PUSKESMAS ini belum maksimal penggunaannya.
Di desa Sibingke terdapat 1 (satu) orang bidan, yang sudah cukup lama ditugaskan sebagai Bidan Desa, Bidan inilah yang menjadi tenaga medis yang menangani semua masyarakat desa.
c. Kantor Kepala Desa
Kantor kepala desa, desa Sibingke terdapat di daerah Sosor Sibingke. Rumah kepala desa langsung dijadikan sebagai kantor.
d. Sarana Jalan
Kualitas jalan di daerah ini bisa dikatakan sudah dalam keadaan bagus, terakhir kali diperbaiki pada tahun 2008 yang lalu. Jalan utama ini memang merupakan bagian dari jalan umum yang dicanangkan untuk digunakan sebagai jalan lintas Sumatera.
e. Jembatan Penghubung
Terdapat jembatan buatan masyarakat yang menghubungkan daerah Huta Bagasan dengan Rinangolngolan, dan merupakan jalan utama bagi penduduk setempat.
HUBUNGAN SOSIAL MASYARAKAT
Sama seperti daerah lain di Kabupaten Tapanuli Utara, masalah social masyarakat di daerah ini tidak akan pernah bisa dilepaskan dari masalah adat, yang memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan social masyarakat desa. Daerah yang pada awalnya didiami oleh penduduk bermarga PAKPAHAN HUTANAMORA, dan membuka diri dengan menerima masyarakat bermarga lain. Inilah yang pada akhirnya disebut sebagai masyarakat tetap daerah ini hingga sekarang yang apabila dihitung dari generasi pertama, sudah puluhan generasi telah menikmati hidup di daerah ini.
Adapun marga yang ada di desa ini adalah:
• PAKPAHAN, menempati hampir sebagian besar lokasi pemukiman, kecuali daerah Lumban Harianja dan Rinangolngolan.
• HARIANJA
• TAMBUNAN (Satu Keluarga Saja)
• SIMATUPANG
• SIANTURI
• SIBURIAN
• NAPITUPULU
• SIMANGUNSONG (satu keluarga)
• SEMBIRING (satu keluarga)
. SITINJAK
Menggambarkan hubungan sosial di daerah ini, sama jika ingin membandingkan masalah social di daerah lain. Perselisihan dan pertengkaran sering kali terjadi yang akibatnya seringkali menimbulkan perpisahan dalam adat. Walaupun itu dalam sebuah keluarga besar, masalah sosial yang satu ini adalah masalah yang paling susah dalam menemukan jalan keluarnya.
"bahan bacaan : Kecamatan Pangaribuan dalam Angka Tahun 2007, dipublikasikan oleh BPS Tapanuli Utara"
21/05/09
DOLOK SAUT (SALAH SATU CAGAR ALAM DI SUMATERA UTARA)
Salah satu pilihan yang sebenarnya sayang untuk dilewatkan jika berkunjung ke Kec. Pangaribuan adalah Cagar Alam Dolok Saut. Karena selain telah ditetapkan sebagai salah satu cagar alam di Sumatera Utara oleh pemerintah, cagar alam ini memang menyimpan berbagai keunikan dan dengan topografy yang menantang bagi para pecinta alam.Kawasan Cagar Alam Dolok Saut berbatasan dengan Hutan Lindung Dolok Saut Register 17. Pada bagian Barat batas cagar alam dengan hutan lindung adalah Aek Raut. Cagar Alam Dolok Saut secara administrasi pemerintahan terletak di Desa Pansur Natolu Kecamatan Pangaribuan Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara. Berdasarkan administratif pengelolaan hutan konservasi, Cagar Alam Dolok Saut terletak di Bidang Wilayah Konservasi Sumber Daya Alam II yang berkedudukan di Padang Sidempuan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Berdasarkan letak geografis Cagar Alam Dolok Saut terletak pada koordinat 99011'10" - 99017'55" Bujur Timur dan 01054'45" - 01055'05" Lintang Utara. Berdasarkan letak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) maka Cagar Alam Dolok Saut terletak dalam DAS Barumun. Berdasarkan letak pada ketinggian di atas permukaan laut (dpl) maka Cagar Alam Dolok Saut terletak pada ketinggian 1.280 s/d 1.360 m dpl. Berdasarkan Keputusan Zelfbestuur Besluit (ZB) No. 36 Tanggal 4 Pebaruari 1924 luas Natuur Monument (sekarang cagar alam Dolok Saut) adalah 39 Ha.
Keadaan topografi Cagar Alam Dolok Saut sebagian besar adalah bergelombang. Kemiringan lahan sebagian besar adalah curam (21 - 55 %).Cagar Alam Dolok Saut dan kawasan hutan disekitarnya merupakan hulu beberapa sungai besar seperti Aek Raut. Di
dalam kawasan ini terdapat 2 aliran anak sungai/alur. Beberapa pemukiman dan persawahan disekitar kawasan khususnya disekitar Desa Rahut Bosi dan Desa Pansur Natolu kebutuhan pengairannya sangat tergantung dari aliran air Aek Raut yang hulunya antara lain dari Cagar Alam Dolok Saut. Terdapat tiga desa yang berdekatan dengan Cagar Alam Dolok Saut dengan jumlah Penduduk pada tahun 2003 yang adalah sebagai berikut:
a. Desa Rahut Bosi sebanyak 1.691 jiwa
b. Desa Pansur Natolu sebanyak 1.006 jiwa
c. Desa Silantom Julu sebanyak 611 jiwa
Kondisi jalan menuju desa-desa terdekat dengan Cagar Alam Dolok Saut hampir sebagian besar rusak, namun masih dapat dilalui dengan kenderaan. Untuk mencapai desa-desa ini harus dengan kenderaan carteran, mengingat tidak ada sarana transportasi umum. Tidak terdapat sarana untuk berkomunikasi seperti wartel di desa-desa sekitar Cagar Alam Dolok Saut. Sarana komunikasi umum hanya terdapat di kecamatan. Namun dengan semakin berkembangnya tekhnologi komunikasi, daerah ini juga sudah memiliki jaringan komunikasi via HP.
POTENSI DOLOK SAUT SEBAGAI CAGAR ALAM
A. FLORA
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Cagar Alam Dolok Saut untuk seluruh stratum pertumbuhan (semai, pancang, tiang, dan pohon) antara lain adalah Anturmangan (Dacrydium junghuhni), Hapas-hapas (Exbucklandia populnea RW), Sihondung (), dan Hoting (Quercus sp.). Namun di Cagar Alam Dolok Saut sangat sedikit dijumpai jenis-jenis anggrek baik anggrek tanah maupun anggrek pohon.B. FAUNA
Di dalam Cagar Alam Dolok Saut dapat dijumpai beberapa jenis satwa, beberapa jenis diantaranya dilindungi seperti Siamang (Hylobates sindactylus), Kambing hutan (Capricornis sumatrensis), Harimau Sumtera (Panthera tigris sumatrensis) dan Kuau (Argosianus argus).
C. POTENSI LAIN DI ALAM DOLOK SAUT
Hingga saat ini bagi masyarakat sekitarnya masih tetap mempercayai bahwa di dalam Cagar Alam Dolok Saut terdapat potensi alam yang sangat berharga yaitu kandungan emas. Kondisi ini didukung dengan perlakuan sejak dahulu Cagar Alam Dolok Saut selalu dipelihara, antara lain kawasan ini dipagari dengan kawat besi berduri, sehingga kawasan ini akrab dengan panggilan "Kandang Bosi". Cagar alam dolok saut memiliki keunikan dan ciri khas yaitu dengan terdapatnya formasi tumbuhan berdaun jarum dan berdaun lebar tumbuh berdekatan tanpa ada menunjukkan dominasi.
Untuk mencapai Cagar Alam Dolok Saut dapat ditempuh melalui route sebagai berikut:
1. Medan ---> Tebing Tinggi ---> Pematang Siantar ---> Parapat ---> Tarutung ----> Sipahutar ---> Pangaribuan ---> Desa Pansur Natolu. Route ini ditempuh selama ± 7-8 jam dengan jarak 463 km dan dapat menggunakan kenderaan umum.
2. Medan ---> Tebing Tinggi ---> Pematang Siantar ---> Parapat ---> Siborong-borong ----> Sipahutar ---> Pangaribuan ---> Desa Pansur Natolu. Route ini ditempuh selama ± 7-8 jam dengan jarak 463 km dan dapat menggunakan kenderaan umum.
3. Medan ---> Tebing Tinggi ---> Pematang Siantar ---> Parapat ---> Tarutung ----> Sipirok ---> Sipangimpar ---> Desa Pansur Natolu. Route ini ditempuh selama ± 10-11 jam dengan jarak 612 km dan dapat menggunakan kenderaan umum.
Dari Desa Pansur Natolu menuju kawasan dapat ditempuh dengan kenderaan roda dua (pada cuaca baik) atau berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang biasa dipergunakan penduduk ke ladang, dengan jarak ± 3 km.
Banyak daerah menawan yang akan dijumpai selain Cagar Alam Dolok Saut di Kecamatan Pangaribuan yang memang harus diakui Belum sepenuhnya dikembangkan oleh Pemerintah setempat. Perjalanan yang memacu adrenalin anda akan menjadi sesuatu yang menarik jika pilihan jalan-jalan anda adalah Pangaribuan, karena rute perjalanan yang sangat menantang. Begitupun semuanya akan terbayar dengan keindahan daerah pegunungan dengan banyaknya sungai-sungai pegunungan yang tentunya jernih.
Bagi anda pecinta cross country, camping, hiking dan semua yang berbau outdoor adventure, mencoba sesuatu yang baru dengan lingkungan yang dekat dengan alam, Pangaribuan memiliki jalaban untuk anda pecinta alam.
08/05/09
"AMERICAN IDOL TANPA ALLISON IRAHETA"
Untuk kesekian kalinya panggung American Idol di gemparkan dengan sebuah kejutan yang harus merelakan Allison Iraheta untuk pulang, malam tanpa adanya pembebasan eliminasi dari juri, mengharuskan Allison untuk menghentikan langkahnya di panggung ini. Eliminasi yang menggemparkan sering terjadi di panggung kompetisi ini, sama seperti ketika Chriss Daughtry di musim ke-5 harus pulang di babak 4 besar, sama seperti Allison. Tapi bagaimanapun bagi saya eliminasi ini lebih berat dari musim itu. Banyak hal yang menarik dari seorang Allison, masih muda, dijagokan oleh juri dari awal, serta periang dan pandai ngomong. Dengan dieliminasinya Allison iraheta, panggung American Idol musim ke-8 resmi tampa dihuni kontestan cewek. Malam eliminasi itu sedikit banyak sangat mempengaruhi suasana hati kontestan lain yang masuk ke babak 3 besar, karena menurut saya Allison adalah pribadi yang sangat terbuka dan dekat dengan semua kontestan. Kocaknya dia baal dirindukan kontestan lain yang sudah menganggapnya bagai adik sendiri.
Jika malam itu bisa memilih, akan lebih baik jika salah satu dari kontestan cowok yang harus keluar, sekalipun itu Dany Gokey atau Kriss Allen. Karena menurut saya Allison sangat pas untuk turut serta dalam panggung penghabisan kompetisi musim kedelapan ini. Tapi namanya kompetisi apapun bisa terjadi, sedih dan kecewa sudah pasti, melihat perjalanan dia dan lagu terakhir yang dia bawakan seakan-akan sudah menjadi pertanda dia akan berhenti malam itu. Panggung American Idol terdiam dan terhanyut menikmati penampilan terakhir Allison di musim ini yang penuh dengan emosi. Sedikit air mata berusaha untuk disembunyikan dengan senantiasa meloncat dan tertawa. Saya bangga dengan cara dia, walau sebenarnya 4 besar jadi yang terberat bagi kontestan, mengingat 3 besar American Idol akan mendapatkan kesempatan pulang kampung minggu depan. Begitupun, saya masih yakin dengan Allison, bahwa mimipinya dan mimpi orangtuanya akan terwujud. Allison would be a big star. And have a big success for a long time in music industry. She will be the next Kelly and Carrie Underwood, althought not be a winner she have a same talent and same chance, to make her dream be true,…..
Langganan:
Postingan (Atom)